Intermeso

“Pengkhianatan Sebuah Kehormatan”

Satria Jaya, Penulis dan Pewarta, Anggota Indonesia Scout Journalist Community (ISJ).

(Antara Dunia Harapan dan Realitas)

Di negeri para bedebah,
Kisah fiksi kalah seru dibanding kisah nyata…

Di negeri para bedebah,
Musang berbulu domba berkeliaran di halaman rumah…

Tapi setidaknya, kawan. Di negeri para bedebah,
Petarung sejati tidak akan pernah berkhianat…
(Tere Liye, Negeri Para Bedebah)

Seperti yang mungkin tak ingin aku sebutkan. Ini akan menjadi salah satu judul dalam catatanku. Aku tahu, terus terang aku sedikit gugup. Bukan karena aku akan bercerita akan sebuah karya fiksi dan drama. Bukan pula aku akan menuliskan sebuah cerita fakta akan sebuah realitas. Tapi ini hanya sebuah kegusaranku akan semua makna perjuangan atas nama sebuah kehormatan.

Teman-teman mungkin pasti akan iri, kalau tahu hanya akan menghabiskan banyak energi dan fikiran, untuk sekedar berebut kursi untuk menjadi seorang putra mahkota dalam sebuah kerajaan bawah tanah.

Mungkin terlalu naif dan ambisius, jika kita semua terlalu cocok untuk menjadi seorang pembawa acara di salah satu stasiun televisi terkenal. Dibandingkan bergerilya dan bergeliat hanya untuk sebuah kalimat pemanis, padahal kosong. Apa kualifikasinya? Mantan Pejabat Eksekutif di Lingkaran Istana? Atau Lulusan terbaik di salah satu sekolah para putera mahkota? Bukankah ada banyak yang memiliki predikat seperti itu. Bukan hanya dia tapi kamu dan kita semua.

Dari puluhan pekerja loper koran, yang mengklaim dirinya sebagai pekerja sosial terbesar di Indonesia. Pemimpin redaksi ternyata memutuskan mengirim salah satu pekerjanya yang berusia dua puluh dua tahun, hanya untuk melakukan pembicaraan yang katanya penting, yang nantinya akan menjadi hot issue bahkan diletakkan dihalaman depan nantinya. Bukankah menarik bukan?

Aku terdiam sejenak, boleh jadi dalam dunia nyata ia akan bergegas meninggalkanku, melupakan pembicaraan tadi. Dan tentu saja aku sedang bergurau kawan. Aku yakin pria itu setidaknya adalah yang terbaik, diantara pekerja sosial lainnya. Dan lagipula sekarang aku ingin membuktikan, apakah memang pria itu cukup lihai dalam berekspansi dan menularkan pengaruhnya bagi kerajaan bawah tanah.

Baca Juga:  “Sebuah Cerita di Balik Jeruji Besi” Part I

* * *

Aku sebenarnya tidak suka berbicara di depan orang, bahkan itupun berlaku untuk orang yang telah lama aku kenal. Berada diantara jajaran orang-orang yang pernah mengeyam dan menggeluti dunia pertaruhan atau apalah. Menyebut latar belakang dan pengalamannya, hingga basa basi pekerja loper lainnya yang sedang menawarkan barang dagangannya. Sebenarnya membuatku muak.

Kerajaan bawah tanah itu mungkin saja dipenuhi deretan petinggi sekuritas, elit pimpinan redaksi, dan berbagai strata manajerial kunci. Mereka sejatinya adalah penjilat kelas kakap, yang tidak tersentuh oleh debu. Dan jangan tanya aku kawan tentang garis hierarki mereka. Penuh semangat berbicara tentang regulasi, manajerial yang baik, evaluasi kebijakan kerajaan. Tetapi mereka sendiri tidak mau diatur dan dikendalikan. Sepakat tentang kehormatan dan penyelamatan kerajaan, tapi mereka sibuk mengais keuntungan ditengah-tengah situasi yang kacau balau.

Hari ini semua panik, satu per satu pejabat di lingkaran istana kemudian mendekat dan mengamankan diri diposisi hierarki teratas. Menempati jajaran elit untuk hanya sekedar lebih dekat dengan putra mahkota. Dan sebagian yang lain, sibuk mencari tempat perlindungan. Dan beberapa lembar surat berharga yang nantinya hanya akan menjadi sampah, tidak lebih dari selembar kertas folio yang kosong.

Kita sama-sama tahu bahwa dalam sebuah pertaruhan, kita akan kehilangan jaminan dan rencana. Kita juga akan tahu, bahwa orang-orang seperti kita menganggap ini adalah teror sebenarnya. Rasa cemas akan masa depan dan tak tahu akan menginjakkan kaki dimana setelahnya. Detak jantung mengeras, ketika melihat grafik potensi bahwa kita akan kehilangan segalanya. Bahkan satu dua bidak catur memilih untuk bunuh diri.

Baca Juga:  “Sebuah Cerita di Balik Jeruji Besi” Part II

Sayangnya Master yang satu itu tidak akan bisa ditusuk oleh belati. Pimpinan redaksi yang ada di meja pojok sana, bisa dengan leluasa mengirimkan pekerja sosialnya yang lain. Bahkan, jika itu hanya untuk memancing keluar bidak catur lain atau kuda liar, lantas mencoba memburunya. Khotbah tentang regulasi bagai nyanyian sendu pengantar tidur. Menawarkan rasa aman para rakyatnya dan mencoba mencegah agar teror itu tidak meluas. Tapi sialnya, Master itu tidak bisa dipegang dan disentuh oleh rakyat kerajaan. Terlalu banyak ororitas hierarki kerajaan bawah tanah yang melindunginya.

Hari ini kita disibukkan untuk berdiskusi sana sini, menganalisis serta berandai-andai. Andai itu yang harus dilakukan; andai regulasi itu mengaturnya lebih transparan; andai kita lebih dulu melakukan ini dan itu. Mungkin saja itu akan menjadi sebongkah ilham, berpesta pora di tengah kerugian keuangan kerajaan.

Aku fikir kita tidak akan menghabiskan banyak waktu hanya untuk mendengar cerita seperti akademisi dan birokrasi sebelumnya. Jauh-jauh kami semua datang hanya untuk mendengar apa sebaiknya dan seharusnya yang dilakukan. Yang mungkin kami semua butuhkan sekarang adalah keputusan yang tepat.

Aku lantas kemudian mengusap wajah lantas berkata pelan setelahnya. Mungkin kunci solusinya hanya tiga kata: bohong, diam dan curang. Hanya itu solusi untuk menghadapi Master. Termasuk menyelamatkan bidak catur yang lain yang terlanjur terbenam di kerajaan yang terancam hancur. (Bersambung)

 Penulis: Satria Jaya (Penulis dan Pewarta, Anggota Indonesia Scout Journalist Community)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top