Intermeso

“Spesies Langka Yang Mematikan”

Satria Jaya, Penulis dan Pewarta, Anggota Indonesia Scout Journalist Community (ISJ).

Di negeri di ujung tanduk,
kehidupan semakin rusak, bukan karena orang jahat semakin banyak,
tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi…

Di negeri di ujung tanduk,
para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan,
bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan,
tapi mereka memutuskan menutup mata
dan memilih hidup bahagia sendirian…

TAPI…. di negeri di ujung tanduk,
setidaknya, kawan,
seorang petarung sejati akan memilih jalan suci,
meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata,
dia akan berdiri paling akhir,
demi membela kehormatan.
(Tere Liye, Negeri Diujung Tanduk)

……..

AKU terkadang tidak peduli dengan politik dan kekuasaan. Toh Master itu telah menempatkan bidak-bidak caturnya diposisi yang tepat. Sebelum para pejabat istana disibukkan dengan agenda mutasi dan promosi. Yang aku cemaskan justru adalah ketika kerajaan dikuasai oleh segelintir orang dengan muka memelas tapi penuh dengan kebohongan.

Coba kita bayangkan ketika kerajaan dikuasi oleh wajah-wajah itu dan terus rakus menelan sumber daya alam yang ada di kerajaan, termasuk hasil pajak yang telah dibayar susah payah oleh rakyat. Maka secara otomatis, kerajaan akan dilumpuhkan serta dihancurkan dari dalam. Dan tidak ada yang bisa menghentikan mereka. Kecuali, sistem itu sendiri yang akan merusak mereka.

Baca Juga:  “Pengkhianatan Sebuah Kehormatan”

Dengan adanya ambisi dan iming-iming kekuasaan, pada tahun kesekian. Sistem ekonomi kerajaan akan memperkaya kerajaan antah berantah lainnya yang ada diluar sana. Menyedot sedikit demi sedikit pajak rakyat, hanya untuk sekedar membuat pejabat istana sibuk hilir mudik, mencari dan belajar dengan para cendekia atau guru terkenal diluar kerajaan.

Ini adalah aset, ATM sekaligus tabungan masa depan bagi Master. Jika suatu saat, Master sedang mengalami pertaruhan, aset-aset inilah yang akan bekerja memutar otak dan strategi hanya untuk sekedar menanamkan pengaruh di kerajaan bawah tanah. Aset-aset itu kemudian tumbuh menjadi mesin-mesin cetak biru (Blue Print) Kerajaan Bawah Tanah. Mengeluarkan kertas-kertas berharga. Namun, kita juga tahu bahwa kertas itu butuh tempat penyimpanan untuk dapat berbunga dan berkembang biak. Dan boleh jadi ia akan menjadi spesies langka yang cukup mematikan nantinya.

Baca Juga:  “Dibalik Pengangkatan Putera Mahkota”

Aku kemudian berhipotesa Andai saja dunia ini tidak mengenal yang namanya ambisi, politik dan kekuasaan. Maka boleh jadi dunia akan jauh lebih baik dan lebih damai. Atau aku mungkin lupa akan sebuah skenario “Tangan Tuhan”. Toh pada akhirnya ia akan membuat keseimbangan. Meski harus meledakkan keseimbangan lain yang telah ia buat sebelumnya.

Lantas apa peduliku dengan jahatnya kekuasaan, politik serta ambisi? Bukankah setidaknya aku sendiri pernah hidup dan belajar dari orang-orang itu. Tapi sepertinya aku tak ingin berdebat panjang dengan diriku sendiri. Sekarang aku sedang tak berselera. Dan mungkin jika aku tertarik dilain waktu. Aku akan mendiskusikannya dengan orang yang nyaman tentunya. Tapi kita akan lihat dulu apa reaksi bidak-bidak atau spesies langka itu ketika mendengar hasil wawancaraku dengan salah satu pemimpin redaksi sebuah majalah terkenal yang juga ditawarkan oleh loper koran tadi. (Bersambung)

Penulis: Satria Jaya (Penulis dan Pewarta, Anggota Indonesia Scout Journalist Community)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top