Intermeso

“Dibalik Pengangkatan Putera Mahkota”

Satria Jaya, Penulis dan Pewarta, Anggota Indonesia Scout Journalist Community

Dalam politik dan kekuasaan,
Kita bisa hidup berkali-kali…
(Master)

……..

Seperti lazimnya sebuah kerajaan, akan terjadi perpindahan pemegang hierarki tertinggi. Dari seorang pangeran kerajaan lantas beralih kepada putera mahkota.

Seperti lazimnya sebuah perpindahan, akan terjadi riak-riak kecil diantaranya. Para jajaran petinggi istana akan sibuk berekspansi dan mencoba menanamkan pengaruhnya kepada rakyat kerajaan.  Meski itu hanya sekedar menguji seberapa besar eksistensi  dan kerja aset-aset yang telah ia buat beberapa waktu yang lalu dan tentunya itu dipersiapkan secara istimewa jauh-jauh hari sebelum pertaruhan.

Sedangkan petinggi istana yang lain, akan sibuk bergerilya mencari sokongan dukungan dari para pemimpin redaksi. Dan tentu saja tujuannya bukan hanya sekedar untuk mencari dukungan. Tapi, lebih daripada itu. Beberapa diantara mereka, akan melakukan deal-deal dengan para pemimpin redaksi tentang sumber daya keuangan yang harus mereka persiapkan. Dan itu jumlahnya tidak sedikit kawan. Melebihi hasil uang pajak yang dikumpulkan oleh rakyat.

Beberapa petinggi istana yang lain akan berfikir keras, mencari dan menemukan strategi dan manajerial guna menempatkan bidak-bidak caturnya atau sedikitnya mengirim beberapa pekerja sosial untuk menjadi intel dan pengawas keadaan disekitar istana. Tentu saja petinggi istana tadi tidak bekerja sendirian. Mereka akan berkonsultasi dan berkoordinasi dengan Master. Master inilah yang menjadi titik kunci sistem kerja para petinggi istana. Dan sebuah rencana besar Master sudah terfikir dengan matang dikepalanya guna memenangkan pertaruhan dan perebutan sebagai putra mahkota.

Baca Juga:  “Spesies Langka Yang Mematikan”

* * *

Ruangan istana kini telah dipenuhi oleh tepuk tangan para pemilik suara. Pakaian yang rapi, kemeja serta jas telah menjadi tontonan yang menarik saat itu. Ditengah-tengah lingkaran, petinggi istana akan saling melempar senyum dan tatapan kosong dan terkadang tak jarang menantang petinggi istana yang lain.

Wajah yang sedikit sangar kini hadir diantara beberapa petinggi istana. Pertaruhan kali ini bisa jadi akan sangat emosional. Kita semua boleh jadi akan bermusuhan ditengah-tengah pertaruhan, namun diluar itu kita akan menjadi kawan dan sahabat yang baik. Semua langkah dan aktivitas yang akan dilakukan selama pertaruhan akan menjadi rahasia para pemimpin redaksi. Bahkan kalau kita bertemu dengan para petinggi istana yang lain dimanalah, tidak akan ada yang membahas kejadian selama proses pertaruhan berlangsung.

Selalu ada keinginan dari oleh Master untuk menempatkan kabilah-kabilah yang tepat untuk diutus mewakili rasnya masing-masing. Kabilah-kabilah ini juga bertugas untuk menjadi kurir dalam lingkaran istana, yang tentunya menjadi penyambung lidah antara Master dan para petinggi istana. Segala aktivitas yang telah direncanakan oleh Master harus menjadi skenario yang apik. Ini bertujuan menempatkan seorang yang tepat untuk pewaris tahta kerajaan yang nantinya dapat dikontrol dan menjadi boneka untuk memuluskan tujuan sang Master.

Master tidak pernah peduli apakah  nantinya ia akan berhadapan langsung dengan cendekia yang telah mengajarinya dulu tentang sebuah pertaruhan? Bahkan tak ayal nekat membunuh dan mematikan setiap langkah yang dibuat cendekia guna memperingatkan kehancuran kerajaan bawah tanah setelah pertaruhan.

Baca Juga:  “Pengkhianatan Sebuah Kehormatan”

Ironis memang, jadi tidak heran memang para sastrawan telah berkata dalam sebuah syairnya bahwa “Dalam dunia pertaruhan, tak ada lawan maupun kawan yang abadi. Yang abadi hanyalah kepentingan”.

* * *

Setelah semua drama dan skenario yang dibuat oleh Master nyaris berjalan secara sempurna. Bahkan ketika putera mahkota telah terpilih yang katanya secara “demokratis”. Sebuah kata yang dibungkus apik dengan “kebohongan” serta “kemunafikan”. Katanya berjuang untuk sebuah kehormatan. Tapi dibalik semua itu, ada kepentingan yang lebih besar yang ingin diraih oleh Master. Apalagi kalau bukan persoalan materi, pretensi atau hanya sekedar ingin meraih apresiasi dari para Master yang lain, atas usahanya memenangkan sebuah pertaruhan kecil guna persiapan pertaruhan besar memperebutkan tahta adidaya.

Sebuah kerja sistematis yang nantinya akan berdampak sistemis bagi kelangsungan hidup sebuah kerajaan besar. Proses pengangkatan putera mahkota tak ayal menjadi ladang persemaian spesies dan spesialis yang mematikan. Menciptakan monster-monster yang terbalut dengan pakaian yang serba sederhana namun berkelas. Menghisap darah dan pajak negara secara beramai-ramai. Inikah hakikat sebuah perjuangan, yang hanya menciptakan dunia yang tak seimbang. Penuh dengan intrik yang menyakitkan. Tak ubahnya sebuah perang dingin yang tak berkesudahan. Mungkin akan Bersambung….

Penulis: Satria Jaya (Penulis dan Pewarta, Anggota Indonesia Scout Journalist Community)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top