Ragam

Proyek Bermasalah di Daerah Gunung, Ini Jawaban Kontraktornya

Sapridona, Kontraktor CV. Bangkit Pamelleri

KOLAKA UTARA, SULAWESINEWS.COM – Sebagaimana diberitakan sebelumnya “Proyek Bermasalah, PPK Tolak PHO” di Sulawesinews.com edisi Rabu, 3 Mei 2017, mengundang banyak komentar dan reaksi netizen (warganet).

Reaksi serupa juga muncul dari kontaktor pelaksana (CV. Bangkit Pamelleri), Sapridona. Keterangan Sapridona terkait pemberitaan itu menyebutkan, dirinya siap bertanggung jawab dan menuntaskan pekerjaan proyek tersebut secepatnya.

“Jika masalah ini harus dibawa ke ranah hukum (Kejaksaan) atau ke DPRD, apa boleh buat. Saya harus mempertanggungjawabkan pekerjaan saya, dengan segala akibat dan resiko yang ditimbulkan. Bahkan kalau harus didenda, saya terima itu. Meski harus menanggung kerugian” ujar Sapridona melalui klarifikasi via telepon selulernya, Rabu malam (3/4/2017) sekira pukul 22.45 wita.

Baca Juga:  Kasihan….. Ribuan PNS Belum Terima Gaji

Lanjut dikatakan, saya hanya bisa berharap supaya masalah ini bisa mendapat toleransi dari pihak PPK dan konsultan. Sebab sejak awal ketika dianggap bermasalah, saya sudah menghadap untuk minta kebijakan waktu.

“Dan itu sudah diberikan meski secara lisan, agar saya bisa menyelesaikan proyek tersebut,” Ungkap kontraktor yang akrab disapa Dona.

Sebelumnya, kerusakan proyek jalan rabat beton yang ada di daerah pegunungan Desa Nimbuneha, Watumotaha dan Desa Koreiha, disebabkan oleh beberapa faktor. Selain faktor alam dan cuaca, aktivitas kendaraan masyarakat serta kendaraan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang diduga sebagai penyebab, akibat tidak adanya jalan alternatif.

Sehubungan hal ini, Pejabat Kepala Desa Koreiha, Alias, S.Sos, membenarkan jika penyebab kerusakan proyek tersebut akibat aktivitas roda dua masyarakat dan kendaraan proyek PLTMH.

Baca Juga:  Kemenristekdikti Gelar Sosialisasi Publikasi 2017 di Kopertis IX Sulawesi

“Soal kerusakan proyek rabat beton di tiga desa itu, salah satu penyebabnya adalah kendaraan yang hilir mudik. Baik roda dua maupun mobil truk pengangkut material proyek PLTMH. Namun juga diduga, campuran yang digunakan itu tidak sesuai rencana anggaran belanja (RAB) nya. Sehingga mempercepat terjadinya proses kerusakan” ujar Alias.

Contoh kasus kata Alias, jika pekerjaan konstruksi sesuai RAB, ketika dilewati alat berat atau diluar memampuan beban (tonase), paling hanya melempeng. Tapi yang saya liat di lapangan untuk proyek APBD tersebut, itu benar-benar hancur. Pungkas Alias, saat ditemui di kediaman nya, Kamis (4/4/2017) pagi.

ASRI ROMANSA

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top