Intermeso

“Sebuah Cerita di Balik Jeruji Besi” Part II

Satria Jaya

Belati terhunus tanpa ragu
Dan bulan terluka oleh silaunya…
(Asma Nadia, Pesantren Impian)

DISUATU sore yang nampak indah, air hujan turun dengan malasnya. Menginjakkan kakinya tepat diatas tanah. Menciptakan suara sendu nan indah di telinga. Peristiwa turunnya hujan bagi gue adalah sebuah keindahan. Bagaimana tangan Tuhan menciptakan sebuah keindahan yang tak mampu ditandingi oleh siapapun manusia di bumi.

Di lorong depan kamar tahanan, gue berpapasan dengan seorang lelaki yang menatapku tajam namun penuh makna. Ia berperawakan tinggi, pakaiannya tampak lusuh dan berantakan. Rambutnya acak-acakan tidak karuan. Apa yang sebenarnya yang telah dilakukan hingga ia berada tempat suci ini?

Sontak langkah kaki gue perlahan mendekati lelaki itu. Ada rasa canggung diantara kami berdua. tak tahu harus memulai percakapan ini dengan kalimat basa-basi apa. Lelaki itu seakan menyimpan detil segala kejadian masa lalunya rapat-rapat. Satu-satunya motivasiku kali ini adalah aku harus mengenal lelaki itu. Minimal sebuah nama terekam jelas di memori kepalaku.

Arham. Begitu ia mengucapkan namanya dengan jelas di telingaku. Dengan beberapa pertanyaan basa-basi yang coba kulontarkan kepadanya. Lelaki itu kemudian bercerita kepadaku awal mula ia berada ditempat suci ini.

Sekitar 2 tahun yang lalu, tepat dimalam di malam tahun baru. Seperti lazimnya pemuda kampung yang hendak merayakan pergantian tahun, lelaki itu kemudian merencanakan perayaan bersama teman sebayanya tepat disalah satu tempat yang ada dikota. Seperti layaknya pemuda kampung yang hampir tidak pernah mengeyam yang namanya pendidikan. Pergantian tahun itu adalah momen dimana mereka akan melepaskan semua beban kehidupannya dengan cara yang berbeda.

Baca Juga:  “Spesies Langka Yang Mematikan”

Lazimnya bagi sebagian orang pergantian tahun adalah masa dimana para pedagang terompet dan kembang api hilir mudik menjajakan barang dagangannya. Para bocah akan sibuk mengemis kepada orang tuanya, meski itu hanya sekedar untuk meminta mainan ataupun pakaian baru. Tapi tidak dengan lelaki itu, pergantian tahun bagi dia dan teman-temannya adalah ajang untuk kumpul dan sejenak berkongsi dengan teman yang lain. Mengumpulan selembar demi selembar uang untuk sekedar dipakai membeli air suci. Yang nantinya akan dinikmati bersama tepat di malam pergantian tahun.

Tepat pukul 11.30 tepat dimalam itu, awalnya hanya berawal dari gurauan dan candaan kecil diantara kami. Sambil menikmati kacang kulit dan beberapa panganan kecil plus air suci yang dibeli oleh beberapa teman lelaki tadi disebuah warung kecil di ujung jalan. Entah karena apa, pada awalnya hanya sekedar candaan lantas berubah menjadi pertengkaran kecil. Antara lelaki tadi dengan seorang pemuda.

Awalnya hanya berupa lemparan sindiran yang kemudian dijawab dengan sindiran lain. Merasa harga diri dan kehormatannya telah diinjak-injak lantas lelaki itu terlibat perkelahian kecil dengan pemuda tadi. Mata yang merah dan keringat yang bercucuran. Tangan lelaki itu terlihat gemetar. Aneh dan tak wajar.

Baca Juga:  “Dibalik Pengangkatan Putera Mahkota”

Ia kemudian mengambil sebuah pisau dari balik punggung, lantas menghunuskannya secara tiba-tiba tepat ditengah-tengah perut pemuda lainnya. Dengan sekali tikaman pemuda tersebut lalu tersungkur lantas jatuh ke tanah.

Lelaki itu kemudian memandang sekelilingnya dengan wajah yang pucat. Dihadapannya tergeletak sesosok tubuh yang tak bergerak berbaur dengan percikan darah yang meluber kemana-mana.

Panik, lelaki itu kemudian bergegas membunyikan motornya yang sedari tadi terparkir rapi. Ia kemudian tergesa-gesa melangkah meninggalkan tempat perjamuan tadi. Dan sesegera mungkin ia harus menemukan tempat persembunyian yang aman. Tapi kemana?

* * *

Mendengar cerita lelaki itu, gue gak habis fikir sekerdil itukah logika manusia. Sampai harus memutuskan takdir dan nyawa seseorang ditangan kita sendiri. Ataukah karena tawaran dan iming-iming kebebasan dan gemerlapnya hingar bingar dunia malam. Apakah kesadaran hanya akan terbius sesaat oleh sebuah air suci? Lantas bermain dengan penyesalan setelahnya. Mungkin inilah hidup. Tuhan mungkin masih sayang dengan diri kita. lewat ujian dan musibah, tangan Tuhan kemudian bermain indah dengan kehidupan kita setelahnya. Itupun kalau kita mau belajar setelahnya. Bukan begitu…?

Penulis: Satria Jaya, (Penulis dan Pewarta, Anggota Indonesia Scout Journalist Community).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top