Jadi Sasaran Ternak Warga, Sekolah di Konsel Butuhkan Pagar

Jadi Sasaran Ternak Warga, Sekolah di Konsel Butuhkan Pagar

Senin, 28 Agustus 2017,

KONAWE SELATAN, SULAWESINEWS.COM – Sekolah Dasar Negeri (SDN) 11 Angata yang terletak di Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) Sulawesi Tenggara (Sultra), membutuhkan pagar permanen untuk sebagai pengaman dari hewan ternak yang kerap masuk ke area sekolah.

Pasalnya, dengan tidak adanya pagar permanen selama ini, membuat hewan ternak warga leluasa masuk di lokasi sekolah tersebut sehingga tak jarang kotoran hewan ditemukan berceceran.

Tentunya hal tersebut membuat pihak sekolah merasa tidak nyaman atau tergangggu saat menjalankan kegiatan belajar mengajar.

“Kita mengajar di sini terganggu karena bau urin dan kotoran hewan,” ujar Kepala SDN 11 Angata, Hamoria S.Pd, kepada Sulawesinews.com saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Sementara itu, kendatipun sekolah tersebut sudah pernah dipagar sebelumnya, namun menurut Hamoria, pagar tersebut tidak dapat bertahan lama dikarenakan hanya menggunakan kayu yang kini sudah lapuk dan roboh.

“Sebenarnya ini semua di samping sudah pernah dipagar, tapi tiang-tiang ada berapami saya periksa sudah lapuk dan roboh,” Jelasnya.

Selain terkendala pagar, lanjut Hamoria, sekolah yang dipimpinnya itu masih kekurangan mobiler, khususnya lemari. Karena lemari yang ada di ruang kelas sudah tidak dapat menampung dokumen sekolah dan sejumlah buku paket. Selain kekurangan, lemari yang ada, juga sebagian sudah rusak dan lapuk.

“Mobiler saya lihat ini umumnya di kelas sudah hancur semua dan lapuk dan biar bagaimanapun ini buku paket juga selain di perpustakaaan perlu juga ada di kelas supaya buku-buku administrasi di kelas bisa tertata rapi,” katanya.

Pantauan Sulawesinews.com,  bukan hanya pagar dan mobilernya, namun juga sebagian ruang kelas sudah mulai hancur. Sejumlah plafonnya sudah rusak dan jatuh sehingga bisa mengakibatkan KBM tidak nyaman dilakukan.

“Itu untuk satu unit (tiga ruang) hancurmi lantainya dan plaponnya di dalam sudah rusak,”ujar Hamoria, sambil menunjuk ke arah gedung yang dimaksud.

Sudah jelas dengan kondisi tersebut, pihak sekolah sangat mengharapkan perhatian pemerintah dan pihak terkait agar proses kegiatan belajar mengajar menjadi nyaman.

“Semoga sekolah ini mendapatkan perhatian dengan beberapa kekurangan agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan lancar,” harapnya.

Terkait soal itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), DR. Busnawir, yang dihubungi melalui telepon selulernya, menyebutkan jika kekurangan penunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah itu, diantaranya pembangunan pagar sesungguhnya semua sekolah di kabupaten Konawe Selatan sudah pernah disurvei. Hanya saja kata dia, terkendala dengan keterbatasan anggaran.

“Sebenarnya semua sekolah yang ada di Konsel itu kan kita sudah konservasi survei. Dan memang setiap tahun itu kita mengikuti sistem zona-lah begitu, artinya karena keterbatasan dana,”jelas Busnawir.

Mantan Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Konsel itu menuturkan, bahwa tidak semua sekolah itu yang ada di Konsel secara serentak akan langsung mendapatkan bantuan sekaligus. Karena kata dia, prosedur pengusulannya secara bertahap. Karena keterbatasan anggaran, sehingga harus mengikuti mekanisme yang ditetapkan.

“jadi bertahap dan rara-rata setiap tahun kita usulkan untuk pembangunan pagar setiap sekolah. Tahun kemarin kita hanya dapat tujuh sekolah. Dan tahun depan kita sudah usulkan supaya sekolah yang kebutuhan pagarnya memprihatinkan maka kita itulah yang diprioritaskan,” jelasnya.

Selain itu, ia menambahkan, sekolah yang kekurangan guru PNS-nya, itu merupakan program yang pernah diterapkannya. Hanya saja kata dia, kebijakan itu sepenuhnya bukan lagi pihaknya yang bisa mengusulkan karena posisi jabatan yang diembannya bukan lagi kewenangannya tapi itu kewenangan Plt. Kadis yang menjabat sekarang.

“Kalau guru PNS itu kan saya punya program kemarin itu kita butuh 6 seharusnya distribusi pemerataan guru. Artinya sekolah yang kelebihan, kita over ke sekolah-sekolah yang kekurangan supaya merata. Kemudian kita mengadakan seleksi guru honor untuk mengisi kekurangan-kekurangan itu. Tapi karena saya sudah tidak Plt Diknas lagi, jadi itu bukan kewenangan saya untuk mengusulkan, sehinggga saya serahkan ke Sekda untuk mengurus hal itu,” Pungkasnya.

[Darson]

TerPopuler