Disdikbud Soppeng Studi Tiru di Malaysia, Ini Kata KBRI

Disdikbud Soppeng Studi Tiru di Malaysia, Ini Kata KBRI

Jumat, 31 Januari 2020,

SOPPENG, SULAWESINEWS.COMRombongan studi tiru Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Soppeng disambut bahagia Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur (KBRI KL) Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) DR. M Farid Ma`ruf, PhD di aula Hasanuddin KBRI Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (30/01/2020).

Sebanyak 53 orang peserta yang terdiri dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kabupaten Soppeng, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Soppeng, Kabid pembinaan Dikdas, pengawas sekolah, Kepala TKN, Kepala UPT SPF SMP, Kepala UPT SPF SD, Pustakawan, Dewan pendidikan dan komite sekolah.

Kadisdikbud Soppeng, H Muh Azis, menyampaikan alasan memilih negara Malaysia sebagai tempat untuk dikunjungi melakukan study tiru karena tingkat pendidikan di Negara Malaysia maju dan berkembang pesat.

“Begitu pun dengan Malaysia, jika pada tahun 60-an model manajemen pendidikannnya berkiblat ke Indonesia, dengan banyaknya guru Indonesia yang ditugaskan mengajar ke Malaysia. Namun sekarang Malaysia sudah berbenah diri dengan menugaskan guru-gurunya belajar ke luar negeri, Malaysia sudah berjaya dengan konsep manajemen Pendidikan, Istiqomah, Integritas dan Komitmen pada aturan,” ungkap H Muh Azis.

DR M Farid Ma`ruf, PhD berterima kasih kepada Kadisbud Soppeng beserta rombongan study tiru atas kunjungannya di negara Malaysia untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik.

Pendidikan di Malaysia, kata M Farid lebih baik, jawabannya adalah Istiqomah.

“Di Malaysia ada pendidikan dasar 6 tahun dan pendidikan menengah 5 tahun. Setelah itu ada yg dinamakan fondation antara 1 – 2 tahun. Di fondation ini, jika ada yg termasuk top 5, maka boleh daftar di perguruan tinggi,” jelas Farid.

Selain itu, dikatakan Farid, sekitar 2-3 tahun ini di SD tidak ada yang namanya ujian kecuali kelas 6. Jadi dasar untuk masuk perguruan tinggi itu adalah melihat nilai-nilai raport.

“Integritas juga penting. Jika integritas sudah baik, maka pendidikan juga baik. Misalkan guru memberikan nilai tidak sesuai dengan yg sebenarnya. Maka rata-rata rapor penentuan masuk tidaknya ke perguruan tinggi karena nilai rapor adalah nilai yang sebenarnya, tidak ada nilai yg tidak sesuai,” ujar Farid.

“Jadi guru juga berperan penting agar berani memberikan nilai sesuai yang sebenarnya,” sambungnya.

Koordinator peserta study tiru Muhammad Husni, yang juga Kepala UPT SMPN 3 Watansoppeng memberikan komentar bahwa dari hasil pemantauan di Sekolah di Malaysia.

“Paparan dari Atase Pendidikan Malaysia di KBRI KL, sangat tergambar dengan jelas hal-hal positif yang dilakukan di Malaysia, serta model-model pembelajaran, pembinaan karakter, teknik supervisi, pembinaan PTK dan manajemen sekolah lainnya yang merupakan inovasi dari pelaku pendidikan di Malaysia dapat diaplikasikan di sekolah-sekolah setelah kembali ke Indonesia. Tentunya tetap harus disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing,” ucapnya. (Adv)

TerPopuler